20 Januari 2026

Percepatan Penurunan Stunting di Kutim Meningkat, DPPKB Perkuat Strategi Lintas Sektor

Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi.

LINTAS time, SANGATTA – Perjalanan panjang menurunkan angka stunting di Kutai Timur mulai menampakkan hasil yang lebih jelas. Di tengah berbagai dinamika kesehatan masyarakat, Kabupaten Kutim mencatat capaian baru: prevalensi stunting kini berada pada 20,26 persen, sekaligus mengangkat posisi daerah ini ke peringkat 7 nasional, dari sebelumnya peringkat 10. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi penanda bahwa upaya lintas sektor mulai bekerja.

Pencapaian itu disampaikan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, yang menyebut progres tersebut merupakan hasil kolaborasi panjang antara pemerintah daerah, tenaga lapangan, hingga kader di tingkat desa.

“Kemarin kita peringkat 10, sekarang peringkat 7. Ini menunjukkan progres melalui program stop stunting,” ujar Junaidi saat diwawancarai belum lama ini.

Namun, capaian ini masih jauh dari kata selesai. Junaidi menyebut angka 20,26 persen tetap tergolong tinggi dan menjadi alarm bahwa percepatan harus terus dilakukan secara menyeluruh, terutama pada keluarga berisiko yang berada di wilayah pelosok.

“Masih banyak PR yang harus kita tuntaskan. Fokus kita adalah menurunkan sampai ke level aman sesuai target nasional,” tegasnya.

DPPKB Kutim saat ini menggerakkan berbagai strategi komplementer, mulai dari intervensi gizi tingkat rumah tangga, peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, serta penguatan pendampingan keluarga prioritas. Program pemberdayaan ekonomi keluarga juga terus dikembangkan agar pemenuhan gizi anak tidak terhambat oleh keterbatasan daya beli.

Pendekatan kolaboratif menjadi kunci. DPPKB memperluas kerja bersama PKK, pemerintah desa, hingga kader posyandu yang menjadi garda depan pendampingan keluarga. Keterlibatan multi unsur ini dianggap sebagai pilar penting yang memastikan intervensi berjalan pada level paling dasar.

“Semua pihak harus terlibat, karena stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tapi juga pola asuh, pendidikan, hingga kesejahteraan keluarga,” jelas Junaidi.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat merupakan langkah yang tak kalah strategis. Banyak orang tua yang merasa kebutuhan gizi anak telah tercukupi, padahal pola makan yang diberikan masih jauh dari standar ideal. Karena itu, penyuluhan langsung dinilai menjadi intervensi yang mampu memutus akar persoalan.

“Kadang orang tua tidak tahu bahwa pola makan yang dianggap cukup, ternyata belum memenuhi standar gizi yang dibutuhkan anak. Jadi edukasi itu sangat penting,” pungkasnya.

Dengan progres yang mulai menunjukkan hasil dan strategi yang makin solid, Pemkab Kutim menargetkan percepatan penurunan stunting agar Kutai Timur mampu bergerak menuju daerah dengan indikator kesehatan keluarga yang lebih kuat dan berkelanjutan. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini