Kesadaran KB Ibu Usia Subur Kunci Menekan Angka Keluarga Risiko Stunting
LINTAS time SANGATTA – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur menyoroti masih rendahnya kepesertaan KB di kalangan ibu usia subur yang menjadi salah satu penyebab tingginya keluarga risiko stunting (KRS) di daerah. Data menunjukkan bahwa sekitar 50 persen KRS berasal dari ibu yang belum ber-KB, menandakan perlunya penguatan edukasi kesehatan reproduksi dan pengaturan jarak kelahiran sebagai strategi fundamental menekan angka stunting.
DPPKB Kutai Timur menjelaskan bahwa keluarga risiko stunting (KRS) tidak hanya dipengaruhi faktor gizi anak, tetapi juga kondisi ibu sejak sebelum kehamilan. Rendahnya partisipasi KB pada ibu usia subur berdampak pada tidak teraturnya jarak kelahiran, kehamilan yang terlalu rapat, hingga kesiapan gizi ibu yang belum pulih saat memasuki kehamilan berikutnya. Situasi ini menjadi salah satu pemicu utama lahirnya bayi dengan risiko pertumbuhan tidak optimal.
Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutai Timur, Ani Saidah, memaparkan bahwa fenomena ini memperlihatkan pentingnya perspektif keluarga secara utuh dalam upaya penurunan stunting.
“Stunting adalah masalah yang akar penyebabnya dimulai dari ibu. Ketika ibu tidak mengikuti KB, jarak kelahiran menjadi dekat, tubuh belum pulih, dan nutrisi tidak optimal. Ini berkontribusi besar pada meningkatnya keluarga risiko stunting,” ucapnya saat diwawancarai (4/12/2025).
Lebih jauh, Ani Saidah menegaskan bahwa edukasi KB tidak hanya terkait menentukan jumlah anak, tetapi juga menyangkut kesiapan kesehatan reproduksi si ibu. Program KB berfungsi sebagai upaya memastikan ibu memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan kesehatan fisik, mempersiapkan nutrisi yang lebih baik, dan memberikan pengasuhan optimal pada anak.
Dalam upaya mengatasi 50 persen KRS yang berasal dari ibu yang tidak ber-KB tersebut, DPPKB Kutim telah memperkuat berbagai intervensi, mulai dari advokasi seperti melalui media maupun kolaborasi dengan kader posyandu, puskesmas, bidan desa, tokoh masyarakat, serta tokoh agama. Selain itu, DPPKB juga mengintesifkan penyuluhan langsung, hingga pembinaan kepada ibu-ibu yang tergolong dalam KRS.
Menurut Ani Saidah, pendekatan ini dilakukan secara terstruktur.
“Kami tidak hanya mengajak ibu untuk ikut KB, tetapi memastikan mereka memahami alasan kesehatan di baliknya. Apabila ibu sehat, anak juga ikut sehat. Ketika jarak kelahiran tepat, keluarga lebih siap secara ekonomi dan gizi,” ungkapnya.
Selain intervensi reproduksi, DPPKB turut mengintegrasikan pesan-pesan ketahanan keluarga, pola asuh, dan peningkatan kesadaran gizi. Semua ini menjadi sebuah paket lengkap dalam upaya memutus rantai risiko stunting mulai dari hulu, yaitu kesiapan dan kesehatan ibu.
Melalui pendekatan yang lebih menyeluruh, DPPKB Kutai Timur mengajak seluruh ibu usia subur untuk melihat program KB sebagai investasi kesehatan keluarga, bukan sekadar pilihan kontrasepsi. Dengan kesadaran yang meningkat dan dukungan seluruh pihak, Kutai Timur optimis mampu menekan angka keluarga risiko stunting dan mewujudkan generasi yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas.(Adv/Frd)


Tinggalkan Balasan