20 Januari 2026

Satu Hektare Jagung Dipanen, Swasembada Pangan Diuji dari Desa Muara Bengkal

LINTAS time, KUTAI TIMUR — Program swasembada pangan nasional kerap terdengar besar di tingkat pusat. Di Muara Bengkal Ilir, ukurannya lebih sederhana: satu hektare lahan, jagung dipanen, hasilnya ditimbang.

Polsek Muara Bengkal Polres Kutai Timur melaksanakan Panen Raya Jagung Serentak Kuartal I di RT 01 Desa Muara Bengkal Ilir, Kecamatan Muara Bengkal, Rabu (7/1/2026), sebagai bagian dari dukungan terhadap target swasembada pangan tahun 2026.

Panen tersebut merupakan hasil kerja sama antara Polsek Muara Bengkal, Pemerintah Desa Muara Bengkal Ilir, dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Dari lahan seluas satu hektare, jagung hibrida atau jagung pipil yang dipanen menghasilkan sekitar 500 kilogram dengan berat kotor—angka yang mungkin belum mengubah peta pangan nasional, tetapi cukup untuk membuktikan lahan benar-benar digarap.

Kapolsek Muara Bengkal AKP Rahmat Hartoyo yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menyebut panen raya ini sebagai bentuk sinergi antara Polri, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan.

“Ini bukan sekadar panen, tetapi bukti kolaborasi lintas sektor bisa memberi kontribusi nyata,” ujarnya.

Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto, secara terpisah, mengapresiasi langkah Polsek Muara Bengkal yang dinilainya sejalan dengan peran Polri di luar tugas keamanan. Menurutnya, keterlibatan Polri dalam sektor pertanian merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

“Kami ingin mendorong pemanfaatan lahan produktif dan memperkuat ketahanan pangan, terutama di wilayah pedesaan,” kata Fauzan.

Ia juga mengaitkan kegiatan tersebut dengan program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, yang menempatkan ketahanan pangan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional dari tingkat desa.

Namun, sebagaimana lazimnya pertanian, tantangan tidak ikut dipanen. Kondisi lahan yang rawan banjir saat musim penghujan masih menjadi pekerjaan rumah. Artinya, keberhasilan panen hari ini tetap bergantung pada konsistensi pendampingan dan pengelolaan lahan ke depan.

Meski demikian, hasil panen dinilai cukup maksimal berkat pengawasan intensif Petugas Penyuluh Lapangan serta dukungan penuh Pemerintah Desa Muara Bengkal Ilir. Setidaknya, satu pesan tersampaikan dengan jelas: swasembada pangan tidak lahir dari baliho, tetapi dari tanah yang benar-benar ditanami dan dipanen.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini