15 Januari 2026

Lagu Viral Jadi Penentu Arah Industri Musik, dari TikTok hingga Chart Global

LINTAS time – Industri musik global kian menunjukkan wajah barunya. Popularitas sebuah lagu kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh promosi label besar, melainkan oleh momentum viral di media sosial. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, berbagai lagu—baik rilisan baru maupun karya lama—kembali mencuat dan mendominasi tangga lagu berkat dorongan platform digital seperti TikTok, YouTube, dan Spotify.

Di tingkat global, lagu Golden dari KPop Demon Hunters Cast mencatat lonjakan luar biasa dengan puluhan juta penayangan di YouTube Music Chart hanya dalam hitungan minggu. Fenomena ini mempertegas peran algoritma dan konten viral sebagai “mesin baru” industri musik, yang mampu mengangkat lagu ke puncak popularitas tanpa promosi konvensional besar-besaran.

Media sosial, khususnya TikTok, juga terus menjadi inkubator lagu viral. Banyak lagu mendadak populer karena digunakan sebagai latar video emosional, tantangan tarian, atau konten kreatif para pengguna. Pola ini membuat sebuah lagu bisa dikenal luas bahkan sebelum masuk radio atau chart resmi.

Di Indonesia, tren serupa terlihat jelas. Lagu Garam & Madu berhasil menembus lebih dari 100 juta pemutaran di Spotify setelah viral di media sosial. Sementara itu, Stecu Stecu karya Faris Adam mencetak sejarah dengan masuk jajaran Global Top 20 Songs TikTok—menjadi salah satu bukti bahwa musik Indonesia mampu bersaing di panggung global berkat kekuatan viral.

Tak hanya lagu baru, karya lama pun kembali menemukan momentumnya. Lagu Who Knows milik Daniel Caesar kembali ramai digunakan sebagai musik latar konten reflektif dan romansa, menunjukkan bahwa nostalgia dan emosi tetap menjadi faktor kuat dalam selera pendengar digital.

Fenomena lagu viral ini menandai perubahan besar dalam industri musik: lagu bisa naik daun dalam waktu singkat, namun juga cepat tergeser jika kehilangan momentum. Di era ini, popularitas musik bukan semata soal kualitas produksi, tetapi juga tentang keterhubungan emosional, kreativitas pengguna, dan kecepatan penyebaran di ruang digital.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini